20 Feb 2012

JACQUES DERRIDA


 JACQUES DERRIDA

Pendahuluan
            Seperti biasa, seorang filosof melengkapi kisah hidupnya dengan penuh kontroversi. Begitu juga halnya dengan Derrida, filosof perancis yang terkenal dengan “Dekontruksi”nya ini cukup bisa memancing emosi yang cukup kuat dikalangan orang-orang yang pernah membaca pemikirannya, ataupun terhadap orang yang hanya mendengar perihal Dekontruksinya. Bagaimana tidak, jika dikatan bahwa dekontruksi merupakan metode yang bukan metode, dan dikatakan bahwa dekontruksi merupakan metode taktis yang dalam prosesnya bisa membongkar tulisan dan mengurai kembali tulisan yang sudah mapan.
            Tak luput dari kritiknya adalah modernisme, sehingga derrida bisa dikatakan merupakan salah satu orang yang menjadi pengantar dari modernisme ke- postmodernisme. Ini jelas terlihat dari sikapnya yang begitu semangat menyerang metafisika modernisme atau logosentrisme yang menjadi ciri atau corak pemikiran di era modernisme.
            Begitulah kiranya derrida, kritiknya yang begitu tajam sampai kepada ranah epistemologi modern, hingga bagaimana dia mengkritik metafisika kehadiran, lalu kritiknya terhadap logosentrisme. Melalui dekontruksinya, kita akan mencoba mengulas lebih lebar beberapa pandangan dan pemikirannya di halaman-halaman berikutnya.
Bigrafi
            Jacques Derrida adalah seorang yahudi Aljazair, lahir pada tanggal 15 Juli 1930 di El- Biar, salah satu wilayah terpencil di Aljazair.[1] Dan kemudian pindah ke Perancis untuk melanjutkan studinya pada tahun 1949, setelah dua tahun kemudian ia pulang ke kampung halamannya di Al-Jazair guna memenuhi kewajiban militernya. Baru kemudian pada 1952 derrida kembali ke perancis dan resmi belajar di ENS (Ecole Normal Superiuere). Derrida kemudian melanjutkan studinya di Husserl Archive, setelah sarjana ia mengajar di pusat kajian fenomenologi itu.
            Beberapa karyanya dalam bidang kefilsafatan diantaranya yaitu, sebuah manuskrip yang berjudul The Problem Of Genesis in Husserl’s Phenomenology, kemudian Of Grammatology (buku yang konon menjadi karya derrida yang begitu terkenal), Writing and Difference, dan Speech and Phenomena yang diterbitkannya Pada 1967, dan beberapa karya lainnyanya yang kebanyakan merupakan komentar atas pemikir-pemikir yang kemudian mempengaruhinya.
            Diantara para pemikir yang mempengaruhinya yaitu Heidegger, Nietzsche, Adorno, Levinas, Husserl, Freud, dan Saussure. Seperti yang dikatakan derrida bahwa pemikirannya sangat berutang budi kepada para pemikir diatas.[2]

Cukup sulit mengetahui secara detil biografi filosof yang wafat pada 8 oktober 2004 di Perancis ini, seperti yang derrida katakan. “Haruskah seorang filsuf menulis biografi?[3]” oleh sebab derrida tidak pernah menulis biografi tentang dirinya, maka tak ada yang lebih penting untuk dibahas dari sosok derrida selain pemikirannya, yakni Dekontruksi.
Derrida dan Pemikirannya
            Untuk memahami pemikiran derrida, setidaknya kita pahami dulu latar belakang pemikiran dan kritik-kritiknya. Seperti para filosof atau pemikir lainnya, corak pemikiran seorang filosof tidak akan bisa lepas dari ruang lingkup kehidupan atau orang yang dekat dengan dirinya, begitu halnya dengan derrida. Derrida mengakui sendiri bahwa dirinya terpengaruh oleh pemikiran Heidegger dalam hal mengkritik filsafat barat, ini terlihat dari kesepakatannya dengan Heidegger yang mengkritik filsafat barat yang hanya sibuk membicarakan dan memikirkan tentang benda yang ada sehingga lupa terhadap “ada” itu sendiri.
            Searah dengan Heidegger, Derrida juga mengajukan kritiknya terhadap pemikiran barat yang tradisional namun lebih radikal. Baginya pemikiran barat tradisional hanya sibuk dengan prinsip-prinsip yang menghasilkan istillah-istilah sebegitu banyaknya. Menurut derrida, pemikiran barat sangat dipengaruhi oleh metafisika kehadiran atau logosentrisme, dimana konsep atau teori dianggap telah mampu mengungkap atau menghadirkan being, mereka beranggapan, dengan berhasil menjelaskan konsep-konsep tersebut, maka mereka telah menguasai realitas. Padahal bagi derrida, tidak cukup sebatas itu. Sebab baginya, teks, kata, atau konsep tidak bisa menghadirkan “ada”. Semua itu hanya sebuah jejak atau bekas dari “ada”. Sebagaimana “bekas” (trace), ia akan hilang apabila datang bekas baru.
             Hal ini pula yang meresahkan derrida, bentuk pemikiran barat yang ia sebut dengan logosentrisme, dimana logosentrisme telah menjangkiti filsafat barat pada masa itu. Logosentrisme merupakan paham yang mengimpikan adanya kebenaran tunggal, sesuatu yang transenden yang ada diluar teks. Sesuatu yang berdiri di luar dan bersifat ilahiyah. Hal inilah bagi derrida yang membentuk sistem metafisika barat yang berbasis pada kehadiran seperti yang telah dijelaskan tadi diatas.
            Seperti yang dinyatakan derrida bahwa “tidak ada apa-apa diluar teks”, baginya teks seharusnya dipahami sebagaimana teks itu sendiri, sehingga tidak ada pengurungan terhadap makna yang terkandung didalam teks. Derrida memberikan kebebasan dalam memaknai sebuah teks, sebab kebenaran bagi derrida tidak bersifat monoton seperti yang kita pahami selama ini, yakni teks hanya sebatas pemahaman dominan saja. Padahal bagi derrida, masih ada makna atau kebenaran yang sering atau sengaja dihilangkan dari memahami sebuah teks. Selama ini, kebenaran atau pemaknaan terhadap teks hanya tergantung kepada kepentingan si pengarang atau si pembaca teks. Sehingga baginya hal ini cukup berbahaya.
Dekontruksi
            Dekontruksi derrida merupakan metode yang katanya melampau metode itu sendiri, oleh sebab dekontruksi merupakan anti metode, mungkin oleh sebab itu pula derrida tidak pernah merincikan tentang pemikirannya ini. Meskipun begitu, dekontruksi derrida masih bisa dicerna melalui beberapa karyanya, sebab teori ini tidak didefinisikan melainkan menyerupai proses yang ada dalam teks itu sendiri.
            Dekontruksi tidak dapat diharapkan menjadi sebuah alat untuk mencapai sebuah penafsiran tertentu, sebab dekontruksi hanya permainan terhadap kata-kata atau dekontruksi adalah sebuah istilah dalam mempertanyakan kembali suatu teks dengan menunda pemahaman awal guna mencari sebuah pemahaman yang tersembunyi yang lebih luas.
            Gampangnya, dekontruksi berkeinginan membongkan sebuah dominasi teks atau bahasa dan sebagainya, pembongkaran ini menusuk hingga ranah epistemologinya, masuk kedalam hal-hal yang bersifat dasar atau pondasi, pusat dan kemudian dibalik menjadi pinggir, begitulah dekontruksi. Sebuah permainan serius yang digagas oleh derrida dalam membongkar epistemologi barat.
            Kira-kira seperti itu pandangan tentang dekontruksi, dimana pada prosesnya, dekontruksi membongkar sebuah teks, dan membaginya menjadi kalimat-kalimat semula yang lebih bersifat  metaforis agar menemukan karakternya semulai sebagaimana adanya. Sebaba bagi derrida, teks atau bahasa bersifat polisemi dan ambigu, jika sebuah bahasa atau teks sudah berada pada posisinya semula, yaitu bersifat polisemi dan ambigu. Maka filsafat tidak punya alasan lagi bernegosiasi dalam mencari kebenaran.
Kesimpulan
            Pemikiran derrida bagaimanapun juga bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipahami, seperti halnya dekontruksi yang ia gagas. Derrida beranggapan bahwa metafisika dan epistemologi barat selama ini di dominasi oleh logosentrisme dan metafisika kehadiran. Hal ini akan bahaya bagi filsafat sebab akan berdampak terhadap pemikiran yang dualis dan kaku. Dengan tawaran dekontruksinya, derrida berpikiran akan menghasilkan kebenaran yang plural, unik dan relatif. Namun bagi penulis sendiri, gagasan derrida ini seakan-akan mengarah pada satu hal, yakni nihilisme, terlepas dari itu semua. Tetap saja pembaca akan bisa medekontruksi semua anggapan yang saya pahami dalam makalah ini, selamat diskusi.



[1] Diambil dari wikipedia
[2] Muhammad Al-Fayyadl, Derrida, Lkis 2005.
[3] Muhammad Al-Fayyadl, Derrida, Lkis 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar