26 Apr 2014

Setelah Afghan, Irak, Libya, giliran Indonesia “Dijajah” Lagi?


Oleh: KH Agus Sunyoto





Dul Gundul, TKI yang baru pulang dari Libya, diajak Dul Gawul, bapaknya, sowan meminta barokah doa kepada Guru Sufi. Kebetulan di pesantren ada Sufi Kenthir, Sufi Sudrun, Sufi Jadzab, Sufi tua, Sufi gelandangan, Sufi Slendro, dan Dullah, maka Dul Gundul pun diminta menuturkan pengalamannya selama lima tahun bekerja di Libya. Yang mengejutkan, beda dengan berita-berita di TV dan koran, menurut Dul Gundul kehidupan rakyat Libya di bawah Khadafi jauh lebih makmur dibanding kehidupan rakyat negeri kelahirannya. “Sekolah mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi gratis dan yang melanjutkan ke luar negeri dikasi bea siswa. Kesehatan pun dijamin pemerintah. Warga Libya cukup ongkang-ongkang kaki tiap bulan dapat jatah jaminan sosial dari pemerintah. Saya belum pernah menyaksikan ada warga Libya melarat apalagi jadi gelandangan dan pengemis,” kata Dul Gundul.

“Kalau sudah makmur dan terjamin hidupnya, kenapa ada pemberontakan?” tanya Dullah.

“Wah soal itu saya tidak tahu, paklik,” sahut Dul Gundul mengusap kepalanya yang gundul.

“Yang pasti,” sahut Sufi tua menyela,”Libya itu negara kaya minyak dengan cadangan terbesar di kawasan Jabal Al-Akhdar di bagian timur, yang sudah dieksplorasi di Benghazi, Barce, Beida, Derna, Tobruk, dan Brega. Selama Perang Dunia II wilayah itu diperebutkan antara Jerman dengan Inggris.”

“Woo iya, aku pernah lihat film berjudul Tobruk,” sahut Sufi Kenthir,”Jenderal Jerman terbaik waktu itu namanya Rommel. Kalau tidak keliru, Tobruk itu kan kota di Libya timur yang sekarang berontak? Wah jangan-jangan serangan pasukan gabungan USA-Perancis-Inggris yang pakai dalih Resolusi DK PBB No.1973 tertanggal 17 Maret 2011 itu latarnya hanya mau menguasai minyak Libya seperti kasus serangan di Irak dan Afghanistan.”

“Menurut Yusuf al-Baghdady, temanku,” Sufi Jadzab tiba-tiba ikut bicara,”Latar apa pun yang dijadikan alasan negara-negara Barat melakukan agresi, sebenarnya ada penanda khas yang selalu muncul di balik alasan-alasan itu. Maksud Yusuf al-Baghdady, di balik serangan negara-negara Barat yang selalu mengatas-namakan HAM, Demokrasi, Reformasi, menumpas Terorisme, menggulingkan Tiranisme, anti Status Quo itu terdapat penanda khas: ras kulit putih menyerang ras kulit berwarna. Itu penanda khas yang melekat sejak jaman purba, karena ras kulit putih sejarahnya merupakan ras yang memiliki tabiat suka berperang (belligerent race).”

“Siapa mbah Yusuf al-Baghdady yang menjadi teman sampeyan itu, apa dia seorang intelijen atau pengamat politik internasional?” tanya Dullah ingin tahu.

“Yusuf al-Baghdady adalah kepala bangsa jin di kota Baghdad,” sahut Sufi Jadzab.

“Hwarakadah, lagi-lagi informasi dari jin mbah,” Dullah ketawa terbahak-bahak.

Sufi tua yang tidak senang melihat Dullah menertawakan Sufi Jadzab berkata lantang dengan suara ditekan tinggi,”Lepas apakah informasi itu dari jin, pocong, kuntilanak, tuyul, yang pasti apa yang dikatakan simbah memang ada buktinya. Yang nyerang Irak siapa? Sejarah mencatat George Bush si kulit putih di balik serangan itu bersama kaum Hawking. Yang nyerang Afghan siapa? Yang nyerang Libya siapa? Bahkan negara Amerika itu dulu negeri asal bangsa kulit berwarna Apache, Commanche, Sioux, Navajo, Chirichahua, Eskimo, Mohican, Aztec, Inca, Maya yang diserang, dirampok dan dirampas bangsa-bangsa kulit putih. Fakta sejarah mencatat, hampir semua bangsa-bangsa kulit berwarna pernah diserang, dijajah, diperbudak, dieksploitasi, dan dihinakan sebagai inlander oleh ras kulit putih. Itu adalah fakta sejarah. Itu harus kita sadari bersama-sama. Ingat pesan Bapak Bangsa Bung Karno: JAS MERAH – Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah! Pesan Bapak Bangsa yang kedua, waspadah Neo-Kolonialisme Imperialisme – Nekolim!”

“Benar juga ya pakde,” sahut Dullah membenarkan,”Selama ini kita selalu diarahkan untuk menilai ras kulit putih sebagai ras superior. Sedang kita yang kulit berwarna ras inferior.”

“Padahal, semua itu hanya asumsi-asumsi kosong yang mereka sebarkan seolah-olah kebenaran. Susahnya, kita ini bangsa inlander bekas jajahan, selalu menerima dan mempercayai dengan membuta apa saja asumsi yang mereka ciptakan. Mereka bicara HAM, kita dukung mati-matian mereka sebagai bangsa beradab yang menghargai HAM, meski faktanya merekalah pelanggar HAM terbesar. Mereka bicara Demokrasi, kita dukung rame-rame mereka sebagai bangsa beradab yang mengajari kita sistem kekuasaan paling unggul dan paling baik di dunia, meski faktanya kebanyakan mereka justru mempertahankan feodalismenya. Bahkan saat mereka bicara tentang pengembangan IPTEK untuk semua bangsa, faktanya mereka marah dan sakit hati sewaktu ada negara di Asia – Iran dan Korea Utara – mengembangkan teknologi nuklir dan teknologi luar angkasa. Mereka kutuk negara-negara itu sebagai sarang penjahat yang sangat membahayakan dunia. Barat kulit putih tidak rela ada bangsa Asia pintar dan menguasai teknologi tinggi. Celakanya, bangsa-bangsa kulit berwarna rame-rame ikut mengutuki Iran dan Korea Utara, sepertinya mereka juga tidak rela ada ras selain kulit putih yang pinter,” kata Sufi tua seperti berpidato memaparkan fakta-fakta.

“Sudahlah tidak usah terlalu dalam membincang Libya dan lain-lain,” tiba-tiba Guru Sufi menyela dengan suara tinggi,”Sebenarnya, negeri kita ini juga sedang dirancang untuk “dijajah” kembali dengan sistem baru oleh ras kulit putih.”

“Maaf guru,” Dullah dengan penasaran minta penjelasan,”Apa alasan guru punya prediksi bahwa negeri kita ini sedang dirancang akan “dijajah” kembali oleh ras kulit putih? Apa guru memperoleh informasi dari alam gaib?”

“Aku hanya baca beberapa buku yang mengilhamiku bahwa diam-diam negeri kita ini sedang disetting untuk dijajah kembali,” sahut Guru Sufi merendah.

“Buku? Buku apa guru?” tanya Dullah penasaran.

“Buku yang ditulis Prof Arysio Nunes dos Santos, pakar Fisika Nuklir Brazil, yang berjudulAtlantis – The Lost Continent Finally Found (The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization), dan buku berjudul Eden in The East (2010), yang ditulis Stephen Oppenheimer, peneliti dari Oxford Inggris, yang intinya mirip bahwa Kepulauan Nusantara dulu adalah benua yang tenggelam pada masa Pleistosen di akhir zaman es,” kata Guru Sufi.

“Lho bukankah itu buku yang menyatakan kalau Indonesia dulu adalah benua Atlantis yang memiliki peradaban maju? Bukankah kita harus bangga?” kata Dullah heran dengan cara pandang gurunya yang tak difahaminya.

“Sudut pandang kita lain, Dullah, jadi simpulan kita pun lain. Menurut hematku, justru di balik beredarnya kedua buku itu terselip suatu setting ras kulit putih yang berbahaya bagi bangsa kita, terutama klaim bahwa dari Atlantis (Indonesia) khususnya Pulau Jawa inilah asal leluhur ras kulit putih,” kata Guru Sufi menarik nafas dalam-dalam.

“Bisakah guru menjelaskan tentang kemungkinan adanya setting dalam buku-buku itu?” tanya Dullah penasaran.

“Kamu istirahat dulu, nanti nyusul shalat malam, besok saja aku ceritai,” kata Guru Sufi pergi mengambil wudhu dan mendirikan shalat malam.





Sumber:

https://www.facebook.com/notes/agus-sunyoto-ii/setelah-afghan-irak-libya-giliran-indonesia-dijajah-lagi/123020044439048

Tidak ada komentar:

Posting Komentar